Konsep Visi Abadi (Bagian 2)

Konsep Visi Abadi (Bagian 2)

KONSEP VISI ABADI (Bagian 2)

Oleh : Ps. Petrus Tarigan

Sebelum kita masuk lebih jauh dalam materi ini, terlebih dahulu kita akan memahami tentang identitas gereja. Atau siapakah gereja?

Gereja, pada dasarnya adalah orang orang yang dipanggil (diselamatkan) dari kegelapan dunia kepada terang Kristus yang ajaib. Jadi, secara prinsip, gereja adalah orang orang yang telah dibeli oleh Kristus, dan karena itu, gereja adalah milik Kristus. Demikianlah penegasan Rasul Paulus dalam 1 Korintus 6:19-20. Karena itu, perlu dingat, secara prinsip, gereja bukan milik kita, karena tidak seorangpun diberi karunia untuk menjadi pemilik gereja. Hanya Tuhan Yesus Kristuslah satu satunya sebagai pemilik gereja.

Batas kasih karunia Tuhan dalam panggilan kita adalah sejauh (sebagai) pengelola gereja. Dengan kata lain, Tuhan  mengaruniakan keterlibatan diri kita dalam mengelola dan menjalankan pelayanan gerejaNya. Namun, kita sama sekali tidak dipanggil untuk berdiri sebagai pemilik gereja. Kita dipanggil hanya untuk mengelola gereja. Setiap orang seharusnya memahami batas panggilannya, sehingga tidak menciptakan penyelewengan dalam gereja.

Mengapa ini perlu dipahami? Karena ini adalah pondasi dalam menjalankan pelayanan. Jika terjadi kesalahan dalam pandangan ini, sangat berpotensi melahirkan kesalahan kesalahan lain dalam pelaksanaan pelayanan itu sendiri.  Ibarat pondasi. Jika pondasi benar, maka bangunan akan benar, namun jika pondasi salah, maka bangunanpun akan turut menjadi salah.

Karena itu, sebelum melakukan segala sesuatu dalam gereja, kita perlu memandang identitas dan esensi gereja secara benar, sehingga kita dapat “membatasi diri” (kata tepatnya adalah membatasi kepentingan diri sendiri) dalam menjalankan suatu pelayanan. Agar kita tidak keluar jalur atau koridor yang telah ditetapkan.

Pada sisi yang lain, pemahaman yang benar dalam memandang identitas gereja, membuat perjalanan pelayanan kita menjadi ringan. Tuhan Yesus mengatakan: “kuk yang dari Aku enak dan ringan”. Jadi sesungguhnya, dalam menjalankan pelayanan kita tidak boleh sampai merasa “stress” atau tertekan. Kita tidak ditetapkan memikirkan dan menjalankan gereja dengan cara demikian. Karena itu, jangan seorangpun merasa menjadi “korban” dari sebuah pelayanan. Jangan seorangpun merasa “disusahkan” oleh namanya pelayanan. Kita dipanggil untuk”terlibat” dalam pelayanan, bukan untuk “disiksa” dalam pelayanan.

Sebab gereja adalah milik Tuhan dan pelayanan adalah pekerjaan Tuhan. Sesungguhnya, bersama kita atau tidak, pekerjaan Tuhan akan terus berjalan dalam perlindungan tangan Tuhan yang kuat. Jika kita menyadari, gereja adalah milik Tuhan, maka dalam menjalankan pelayanan, kita akan merasakan “roh yang ringan”, bahkan merasa berbahagia.

Bersambung ..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *