Konsep Visi Abadi (Bagian 3)

Konsep Visi Abadi (Bagian 3)

KONSEP VISI ABADI (Bagian 3)

Oleh : Ps. Petrus Tarigan

Karena itu, dalam menjalankan  pelayanan, seharusnya kita berada dalam perasaan “roh yang ringan”, bahkan dengan sukacita, bukan dengan beban yang berat. Salah satu tanda pelayanan yang benar adalah kita melakukan pelayanan itu dengan perasaan “roh yang ringan”, bahkan dengan suka cita, sekalipun dalam pelayanan yang terlihat sulit dan berat. Namun kita menyadari, kita melakukannya dengan perasaan roh yang ringan. Itu adalah tanda pelayanan kita telah sesuai dengan kehendak Tuhan bagi kita.

Kembali kepada fokus dari materi ini. Jadi, karena esensi gereja adalah milik Kristus, maka visi (yaitu tujuan dan kehendak) yang berlaku dan akan dicapai tentu adalah visi yang Kristus inginkan atau yang Ia kehendaki.

Kita sebagai pengelola gereja tidak boleh menetapkan visi pribadi kita dan mengabaikan visi pemiliknya. Ini sama dengan perkara apapun dalam dunia ini. Bahwa segala sesuatu ditentukan oleh pemiliknya. Karena itu, semua pemilik berhak menetapkan apapun sesuai kehendakNya. Tugas pengelola adalah selalu mentaati kehendak sang pemilik.

Sama halnya ketika kita sebagai pemilik mobil menyerahkan mobil itu kepada seorang sopir untuk mengelolanya. Kita memang menyerahkan mobil tersebut untuk dikelola, namun segala arah dan tujuan dari mobil itu harus selalu  berdasarkan kehendak dan tujuan kita. Sang sopir sama sekali tidak berhak menetapkan arah dan tujuannya sendiri. Bahkan sekalipun sang sopir tidak setuju dengan tujuan kita, maka demi perkenaannya, ia harus melawan ketidak setujuannya sendiri dan mentaati kehendak majikannya.

Demikian juga kita sebagai pengelola gereja. Tuhan Yesus Kristus sebagai tuan pemilik dan kita harus menjalankan visi dan kehendakNya semata mata. Bahkan sekalipun kita tidak menyetujui dengan visi tersebut. Karena itu, sebagai pengelola gereja, kita harus menjalankan visi yang sesuai dengan kehendak Kristus. Bukan apa yang kita mau, namun apa yang Tuhan mau. Bukan yang kita apa suka, namun apa yang Tuhan suka. Bukan apa yang kita anggap baik, namun apa yang Tuhan anggap baik. Bahkan ketika perasaan kita menolak akan kehendak Kristus, diatas perasaan yang menolak tersebut, kita harus tetap taat. Sebab demikianlah jalan untuk mencapai perkenaan Tuhan atas hidup dan pelayanan kita.

Secara jujur, seringkali ada kehendak Tuhan yang tidak sesuai dengan kehendak kita. Ada kebenaran-kebenaran yang melawan perasaan kita dan ada jalan-jalan Tuhan yang “seolah olah” merugikan kita. Dalam situasi situasi tersebut lah kita harus taat. Ketika kita menjalankan gereja seperti visi Kristus sering kali kita harus membayar harga, sebab perjalanan dan bentuk visi tersebut “seolah olah” tidak sesuai dengan keinginan kita.

Bersambung ..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *